Manulife Asia dorong AI untuk kejar pertumbuhan health dan wealth
Perusahaan asuransi asal Kanada ini menargetkan nilai lebih dari US$1 miliar dari AI pada 2027.
Manulife Financial Corporation tengah memperluas penerapan kecerdasan buatan (AI) di seluruh operasionalnya di Asia, seiring upaya perusahaan membangun lini bisnis health, wealth, dan protection menuju target 2027, yaitu menyumbang separuh dari total core earnings grup.
“Kalau kita lihat di seluruh kawasan Asia, kami melihat momentum yang kuat di tiga area utama: health, wealth, dan protection,” ujar Steve Finch, President and CEO Manulife Asia, kepada Insurance Asia.
“Menjadi organisasi yang digerakkan oleh AI merupakan prioritas strategis bagi Manulife, dan Asia menjadi kawasan sentral dalam upaya tersebut,” katanya dalam jawaban tertulis melalui email.
Perusahaan asuransi asal Kanada ini mengoperasikan asisten AI yang melayani nasabah langsung di Hong Kong, dengan dukungan dwibahasa selama 24 jam penuh. Menurut Finch, secara global perusahaan telah memiliki 91 use case generative AI yang sudah beroperasi hingga akhir 2025, dengan 121 use case lainnya masih dalam tahap pengembangan per 3 Agustus.
Perusahaan juga memanfaatkan AI untuk membantu agen dan penasihat keuangan menangani pekerjaan administratif serta pertanyaan seputar underwriting.
“Manfaat paling langsung terlihat pada produktivitas penasihat dan pengalaman nasabah, dan keduanya sebenarnya saling terkait erat,” kata Finch.
Laba bersih Manulife Asia naik 28% secara tahunan menjadi US$768 juta pada kuartal kedua. Sementara itu, core earnings tumbuh 21% menjadi US$616 juta, atau lebih dari 40% dari total core earnings grup, berdasarkan hasil keuangan yang dipublikasikan di situs resmi perusahaan.
Finch menjelaskan, AI SalesPro memberi agen wawasan berbasis data mengenai nasabah, sehingga mereka bisa mengalokasikan lebih banyak waktu untuk memberikan advice kepada nasabah, sementara asisten AI membantu agen menjawab pertanyaan seputar bisnis dan underwriting.
Seluruh karyawan Manulife secara global memiliki akses ke Copilot milik Microsoft Corporation serta ChatMFC, asisten generative AI milik perusahaan, selain asisten yang khusus melayani nasabah di Hong Kong.
Dalam 2026 Evident AI Index for Insurance, Manulife menempati peringkat ketiga di antara 30 perusahaan asuransi global terbesar, sekaligus menjadi perusahaan asuransi jiwa dengan tingkat kematangan AI tertinggi untuk tahun kedua berturut-turut. Hanya Allianz SE dan AXA SA yang berada di atas Manulife dalam indeks keseluruhan tersebut.
Finch menyebut investasi AI perusahaan telah membuahkan hasil nyata, mulai dari respons yang lebih cepat kepada nasabah, interaksi yang lebih personal, hingga berkurangnya beban kerja administratif.
Manulife menetapkan target nilai lebih dari US$1 miliar dari AI di seluruh grup pada 2027. Finch enggan mengungkapkan berapa besar kontribusi Asia terhadap target tersebut, namun ia menegaskan skala kawasan ini menjadikannya krusial bagi pencapaian target itu.
Adopsi AI secara umum masih terbilang terbatas di industri jasa keuangan. Survei Deloitte Touche Tohmatsu Ltd. yang dirilis Mei lalu menemukan bahwa 21% perusahaan jasa keuangan di kawasan Asia-Pasifik melaporkan penggunaan agentic AI setidaknya pada tingkat moderat, meski angka ini diperkirakan akan melonjak hingga 78% dalam dua tahun ke depan.
Manulife telah bergabung dalam AI Cohort Programme milik Hong Kong Insurance Authority sebagai salah satu perusahaan asuransi inti yang berpartisipasi, sekaligus menjalin kerja sama dengan Alibaba Cloud—unit bisnis Alibaba Group Holding Ltd.—untuk menjajaki pembentukan AI hub.
Finch menegaskan bahwa seluruh inisiatif ini berjalan di bawah kontrol yang mencakup penggunaan AI yang bertanggung jawab dan aman, dengan pengawasan manusia (human oversight) tetap dipertahankan dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Di lini health, Manulife memanfaatkan platform wellness ManulifeMOVE serta kemitraan dengan Guardant Health, Inc. untuk deteksi dini kanker, guna melibatkan nasabah bahkan sebelum mereka mengajukan klaim.
Inisiatif-inisiatif ini merupakan bagian dari upaya perusahaan mengatasi kesenjangan perlindungan kesehatan (health protection gap) di Asia, yang menurut Swiss Re Institute diperkirakan mencapai US$258 miliar dalam nilai setara premi pada 2024.
Finch menutup dengan menyebut AI akan terus mendukung strategi Manulife yang lebih luas di Asia, dengan memperluas akses nasabah sekaligus memberi lebih banyak waktu bagi penasihat dan agen untuk terlibat langsung bersama nasabah.