, APAC
1239 views
/Wutzkoh from Envato

Asuransi Asia Pasifik lirik utang pasar berkembang demi kejar imbal hasil

Penerbitan investment-grade kini kuasai lebih dari separuh pasar.

Perusahaan asuransi di Asia Pasifik menunjukkan minat yang kian besar terhadap utang pasar berkembang (emerging market debt), seiring upaya mereka mengejar imbal hasil lebih tinggi dan aset yang lebih efisien dari sisi modal di tengah regulasi yang makin ketat.

“Ini merupakan perpaduan dari sejumlah faktor positif yang mendorong tren tersebut,” ujar Alan Koay, Senior Insurance Solutions Director di Aberdeen Investments Ltd., dalam balasan tertulis atas pertanyaan yang diajukan.

Ia mengatakan aturan modal yang berlaku saat ini membuat utang pasar berkembang semakin menarik karena menawarkan spread atau imbal hasil yang disesuaikan risiko (risk-adjusted return) yang atraktif per unit kebutuhan modal. Kualitas pasar ini pun turut membaik, dengan lebih dari separuh utang yang beredar kini mengantongi peringkat investment-grade.

Utang pasar berkembang melampaui US$20 triliun pada akhir 2025, menurut white paper Aberdeen yang dirilis Mei lalu.

Pasar ini mencakup sekitar US$15,8 triliun utang pemerintah dalam mata uang lokal, US$2,6 triliun utang korporasi dalam dolar AS, dan US$1,8 triliun utang pemerintah dalam dolar AS, yang tersebar di hampir 80 negara dan lebih dari 700 penerbit.

Koay mengatakan jumlah negara berkembang yang menerbitkan utang telah bertambah menjadi lebih dari 70 negara, dari sebelumnya hanya 20 negara pada 2000.

“Memang benar bahwa perusahaan asuransi tengah mencari imbal hasil yang lebih tinggi,” ujar Philip Chung, Managing Director sekaligus Sector Lead for Insurance Ratings di S&P Global Ratings, kepada Insurance Asia.

Namun, itu bukan berarti perusahaan asuransi otomatis menambah eksposur mereka ke utang pasar berkembang, tegasnya.

“Mereka cukup selektif soal ke mana dana ditempatkan,” ujar Chung melalui Zoom. “Apakah itu utang pasar berkembang? Belum tentu. Bisa saja itu obligasi high yield AS, misalnya, tapi intinya mereka sedang mencari imbal hasil yang lebih baik.”

Ia menambahkan bahwa sejumlah regulator menetapkan beban modal yang lebih rendah untuk utang infrastruktur dibanding aset-aset lain yang tidak memiliki peringkat, menjadikan infrastruktur sebagai pilihan menarik lainnya.

Frank Yuen, Vice President sekaligus Senior Credit Officer di Moody’s Ratings, mengatakan perusahaan asuransi mungkin menambah kepemilikan utang pasar berkembang dalam dolar AS untuk tujuan diversifikasi, serta obligasi mata uang lokal guna menyesuaikan lebih baik dengan liabilitas jangka panjang mereka.

Namun demikian, obligasi pemerintah tetap menjadi pilihan utama karena risiko kreditnya yang lebih rendah.

“Manfaat modal dari utang pasar berkembang sebenarnya tidak terlalu menarik dibanding kelas aset lainnya,” ujar Yuen dalam balasan tertulis atas pertanyaan yang diajukan.

Ia menyebut perusahaan asuransi justru menunjukkan minat yang lebih besar terhadap infrastruktur karena durasi dan perlakuan modalnya, serta terhadap private equity karena potensi imbal hasil dan diversifikasinya.

Yuen mengatakan perusahaan asuransi di Hong Kong dan Singapura, khususnya grup pan-Asia seperti AIA Group Ltd., Prudential Plc, dan Manulife Financial Corporation, berada dalam posisi lebih baik untuk menambah kepemilikan utang pasar berkembang, karena mereka sudah mengelola portofolio luar negeri dalam skala besar dan menyelaraskan investasi mereka lebih dekat dengan liabilitas polis.

Meski begitu, imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih tinggi serta batas risiko yang konservatif berpotensi memperlambat penambahan alokasi lebih lanjut.

International Monetary Fund mencatat investasi asing di saham dan obligasi pasar berkembang terus meningkat sejak krisis finansial global 2008, mencapai hampir US$4 triliun pada 2025, dengan obligasi menyumbang mayoritas arus masuk dana tersebut.

Menurut Chung, perluasan adopsi utang pasar berkembang lebih ditentukan oleh struktur pasar ketimbang sekadar besaran imbal hasil.

“[Utang pasar berkembang] masih memiliki sejumlah tantangan struktural yang perlu diatasi dalam jangka panjang agar bisa terus tumbuh,” ujarnya, menyebut risiko kredit, regulasi, transparansi, dan likuiditas sebagai isu utama.

Follow the link s for more news on

Perang Timur Tengah ungkap risiko arus kas bagi UKM Singapura

CEO UOI Andrew Lim mengatakan banyak bisnis masih kurang terproteksi di tengah biaya operasional yang terus naik.

EFGH mengandalkan embedded microinsurance untuk jangkau pasar di luar segmen kaya Singapura

Sebagian besar konsumen tidak membutuhkan polis asuransi besar, ujar CEO EFGH David Ng.

Kerugian akibat fraud ungkap ketertinggalan sistem pembayaran asuransi Hong Kong

Cek fisik dan proses manual masih bertahan meski biaya fraud capai 5% dari pendapatan.

Asuransi Asia Pasifik lirik utang pasar berkembang demi kejar imbal hasil

Penerbitan investment-grade kini kuasai lebih dari separuh pasar.

Perusahaan asuransi perketat kontrol atas jalur pelayaran Hormuz

Jepang dan Korea Selatan hadapi eksposur lebih besar terhadap risiko energi Teluk.

Perusahaan tinjau ulang perlindungan kesehatan seiring biaya klaim yang terus naik

Perubahan rider MOH perketat cakupan dan naikkan eksposur co-payment mulai April 2026.

Hong Kong healthcare dorong kejelasan harga, uji klinis, dan kapasitas bioteknologi

Enam dari 10 pasien tunda pengobatan akibat kekhawatiran biaya.

Perang Iran tingkatkan risiko jangka panjang bagi keuntungan asuransi konstruksi Asia

Gangguan rantai pasok dan volatilitas energi berpotensi kerek premi lebih tinggi pada 2027.

Asuransi Asia Tenggara berisiko tergerus laba akibat sistem data yang lemah

CEO Igloo sebut infrastruktur usang batasi manfaat AI meski belanja teknologi terus naik.