, APAC
3179 views
Left to right: Simon Smallcombe, Asia-Pacific insurance partner at Capco; Shane Akeroyd, Clearwater’s APAC chief; Ryan Kim, chief technology and digital officer at FWD Group

Perusahaan asuransi Asia-Pasifik hadapi beban teknologi usang senilai $200 miliar

Teknologi usang dan proses kerja yang telah mengakar terus menghambat operasional.

Perusahaan asuransi di kawasan Asia-Pasifik (APAC) berisiko tertinggal dari pesaing digital jika terus bergantung pada teknologi lama (legacy technology) yang membatasi kemampuan mereka merespons permintaan pelanggan maupun risiko global, menurut para analis.

"Asuransi itu ibarat 'solusi agar bisa tidur nyenyak di malam hari' (sleep-at-night solution)," kata Simon Smallcombe, Partner Asuransi Asia-Pasifik di Capco, kepada Insurance Asia. "Interaksi dengan perusahaan asuransi jauh lebih jarang terjadi dibanding sektor lain, sehingga modernisasi dan investasi pun cenderung tertunda," ujarnya.

Meski begitu, ia menilai industri asuransi kini bergerak cepat untuk mengejar ketertinggalan, dengan investasi signifikan pada optimalisasi klaim, perangkat digital di titik penjualan, analisis kebutuhan finansial, rekomendasi produk, hingga transformasi bisnis secara menyeluruh.

Laporan HFS Research Ltd. tahun 2025 memperkirakan industri asuransi di kawasan ini menanggung utang teknis dan proses (technical and process debt) senilai $200 miliar — terdiri dari $134 miliar terkait sistem lama (legacy systems) dan $66 miliar terkait proses kerja yang usang, yang sebagian besar terkonsentrasi pada penanganan klaim.

Studi tersebut juga menemukan bahwa konsumen kian sering membandingkan layanan perusahaan asuransi dengan perbankan, dengan ekspektasi pengalaman digital yang cepat dan tanpa hambatan.

Sementara itu, Clearwater Analytics Holdings, Inc. melaporkan bahwa 75% perusahaan asuransi masih berfokus pada tantangan operasional jangka pendek, bukan transformasi jangka panjang — angka ini bahkan naik menjadi 90% di kalangan perusahaan-perusahaan terbesar. "Sejumlah perusahaan ini usianya sudah lebih dari 100 tahun, sehingga cara kerja lama sudah sangat mengakar," kata Shane Akeroyd, Kepala Clearwater untuk kawasan APAC.

Kendati menghadapi berbagai tantangan tersebut, perusahaan asuransi tetap menggelontorkan investasi besar. Smallcombe menyebut AIA Group Ltd. dan Prudential Plc sebagai contoh, dengan masing-masing menanamkan sekitar $1 miliar untuk teknologi, data, dan analitik selama lima tahun terakhir — mencakup perangkat digital di titik penjualan, optimalisasi klaim, rekomendasi produk, otomatisasi alur kerja, hingga program transformasi bisnis.

Namun, belanja besar tidak selalu berbanding lurus dengan dampak nyata. Banyak perusahaan asuransi hanya fokus mendigitalkan pengalaman pengguna di sisi depan (front-end), sementara sistem inti dibiarkan tak tersentuh. Menurut Ryan Kim, Chief Technology and Digital Officer di FWD Group Holdings Ltd., inovasi sejati membutuhkan lebih dari sekadar pembaruan antarmuka. "Ini menuntut tata kelola yang gesit (agile governance), kepemilikan lintas fungsi, serta kesiapan untuk menghentikan atau merombak proses-proses lama," katanya.

Kecerdasan buatan generatif (generative AI) kini semakin menjadi tulang punggung operasional perusahaan asuransi. Sistem underwriting berbasis AI milik FWD di Jepang berhasil memangkas waktu pemrosesan hingga 30%, sementara Clearwater mencatat 92% tugas rekonsiliasi kini telah memanfaatkan AI, sehingga meningkatkan kecepatan sekaligus akurasi.

Industri ini juga menghadapi ancaman kelangkaan talenta. Banyak ahli yang selama bertahun-tahun merawat sistem lama kini memasuki masa pensiun, meninggalkan kesenjangan pada pengetahuan institusional (institutional knowledge) perusahaan.

"Mencari talenta baru yang mahir mengoperasikan sejumlah teknologi lama ini akan semakin sulit seiring waktu," kata Akeroyd. "Mereka yang memahami cara kerja sistem lama kini mulai memasuki masa pensiun — rata-rata usianya sudah di kisaran 50 hingga 60 tahun," tambahnya.

Para eksekutif asuransi menegaskan modernisasi bukan lagi sekadar pilihan. Ekspektasi pelanggan yang terus meningkat, persaingan digital, serta tekanan regulasi menuntut pembaruan teknologi sekaligus perombakan proses kerja secara menyeluruh.

"Narasinya tampaknya telah bergeser — dari sekadar berinovasi dengan membeli hal-hal baru, menjadi soal eksekusi: bagaimana membuat semuanya berjalan dalam skala besar," pungkas Akeroyd.

Follow the link s for more news on

Asuransi Malaysia berlomba memperbaiki customer journey

Empati dan transparansi menjadi keunggulan kompetitif.

Singapura targetkan pertumbuhan asuransi captive

Perusahaan berskala lebih kecil berpotensi mendapatkan cara mengelola risiko dengan biaya lebih rendah.

CIMB gabungkan asuransi Takaful dan pinjaman untuk pembeli mobil pertama kali

Program ini mencakup pajak kendaraan, perlindungan kehilangan kendaraan, dan Takaful.

Perang Timur Tengah ungkap risiko arus kas bagi UKM Singapura

CEO UOI Andrew Lim mengatakan banyak bisnis masih kurang terproteksi di tengah biaya operasional yang terus naik.

EFGH mengandalkan embedded microinsurance untuk jangkau pasar di luar segmen kaya Singapura

Sebagian besar konsumen tidak membutuhkan polis asuransi besar, ujar CEO EFGH David Ng.

Kerugian akibat fraud ungkap ketertinggalan sistem pembayaran asuransi Hong Kong

Cek fisik dan proses manual masih bertahan meski biaya fraud capai 5% dari pendapatan.

Asuransi Asia Pasifik lirik utang pasar berkembang demi kejar imbal hasil

Penerbitan investment-grade kini kuasai lebih dari separuh pasar.

Perusahaan asuransi perketat kontrol atas jalur pelayaran Hormuz

Jepang dan Korea Selatan hadapi eksposur lebih besar terhadap risiko energi Teluk.

Perusahaan tinjau ulang perlindungan kesehatan seiring biaya klaim yang terus naik

Perubahan rider MOH perketat cakupan dan naikkan eksposur co-payment mulai April 2026.