Zurich dan YAS gunakan AI untuk kaitkan asuransi taksi dengan perilaku berkendara
Pengemudi dengan skor lebih tinggi akan mendapatkan cakupan perlindungan yang lebih luas serta tambahan manfaat.
Unit Zurich Insurance Group Ltd. di Hong Kong bersama YAS Digital Ltd. memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk menghubungkan perlindungan asuransi secara langsung dengan perilaku berkendara di dunia nyata. Kedua perusahaan menilai pendekatan ini berpotensi mengubah model asuransi kendaraan di industri taksi Hong Kong.
Inisiatif ini lahir dari kesenjangan dalam skema asuransi kendaraan tradisional, yang selama ini lebih banyak bergantung pada faktor statis seperti usia pengemudi, riwayat klaim, dan jenis kendaraan, dibandingkan perilaku aktual di jalan.
Di lingkungan perkotaan Hong Kong yang padat, pendekatan tersebut dinilai membatasi kemampuan perusahaan asuransi dalam membedakan tingkat risiko maupun memberi insentif bagi pengemudi yang lebih aman.
Dalam program ini, Zurich Insurance (Hong Kong) dan YAS menganalisis data berkendara untuk menghasilkan skor performa harian yang kemudian dievaluasi setiap kuartal.
Pengemudi selanjutnya dikelompokkan ke dalam beberapa tier kinerja, di mana skor yang lebih tinggi membuka akses ke perlindungan kecelakaan pribadi yang lebih luas serta berbagai manfaat tambahan.
“Data dianalisis untuk menghasilkan skor harian yang akan ditinjau secara kuartalan,” kata Eric Hui, CEO Zurich Insurance untuk Greater China, dalam jawaban tertulis. “Pengemudi dapat memperoleh perlindungan asuransi dan insentif yang sesuai berdasarkan skor performa kuartalan mereka.”
Model ini dibangun di atas platform TAXY milik YAS yang berbasis AI, yang menggabungkan sistem pemantauan di kendaraan, sensor smartphone, dan analitik real-time. Dalam periode pilot selama enam bulan hingga September, sistem tersebut memproses sekitar 39 juta data dan mencatat peningkatan skor keselamatan sebesar 20% pada pengemudi taksi yang berpartisipasi.
Zurich menilai hasil awal tersebut menunjukkan potensi modernisasi underwriting di segmen yang selama ini memiliki risiko kecelakaan tinggi namun minim diferensiasi harga.
Pengemudi dengan catatan keselamatan yang lebih baik berhak mendapatkan perlindungan kecelakaan pribadi yang lebih komprehensif, termasuk cakupan yang dapat diperluas ke anggota keluarga.
Struktur bertingkat ini mencerminkan pergeseran industri menuju usage-based insurance, di mana penilaian risiko dilakukan berdasarkan pola berkendara aktual, bukan asumsi demografis.
“Data perilaku digunakan untuk meningkatkan keselamatan, bukan untuk menghukum pengemudi,” kata Hui. “Perilaku berkendara membantu kami mengelompokkan tingkat risiko sehingga kebiasaan yang lebih aman dapat dihargai dengan manfaat yang lebih baik, namun kami tetap menjaga agar sistem tetap adil.”
Selain untuk kebutuhan asuransi, data dari platform ini juga memberikan insight operasional bagi pengemudi dan operator armada. Sistem mampu menganalisis rute, pola kerja, dan waktu tidak produktif, sehingga membantu pengemudi mengurangi jam terbuang dan meningkatkan pendapatan harian, sekaligus membantu operator mengoptimalkan penggunaan armada, kata Co-founder YAS William Lee.
Seiring meningkatnya penggunaan data perilaku dalam penetapan harga dan manfaat asuransi, kekhawatiran terkait bias algoritma dan transparansi juga ikut mengemuka. Zurich dan YAS menyebut program ini dirancang untuk mengatasi risiko tersebut.
Model penilaian menggunakan indikator objektif seperti pengereman mendadak, kecepatan melebihi batas hukum, pola akselerasi, stabilitas saat berbelok, indikasi gangguan konsentrasi, titik rawan kecelakaan, serta risiko lingkungan di sepanjang perjalanan. Indikator ini dirancang mencerminkan risiko kecelakaan dan tidak dipengaruhi karakteristik pribadi seperti usia atau gender.
Untuk menjaga keadilan, program ini menerapkan audit berkala terhadap hasil model, pengawasan manusia sebelum perubahan tier diberlakukan, serta fitur transparansi yang memungkinkan pengemudi memahami skor mereka.
Pengemudi dapat berpartisipasi menggunakan kamera kendaraan yang diwajibkan pemerintah atau melalui aplikasi seluler YAS yang memanfaatkan sensor smartphone dan data GPS. Sistem ini juga mengintegrasikan kondisi cuaca, pola lalu lintas, dan zona berbahaya menggunakan algoritma lalu lintas khusus Hong Kong, dengan model machine learning yang terus diperbarui seiring masuknya data baru.
Kedua perusahaan memandang inisiatif taksi ini sebagai ajang uji coba untuk penerapan underwriting berbasis telematika yang lebih luas. Hui mengatakan data yang dihasilkan berpotensi menjadi bagian dari pertimbangan underwriting di masa depan seiring berkembangnya produk usage-based insurance.
“Nasabah kini semakin mencari perlindungan asuransi yang berbasis penggunaan aktual,” kata Lee, seraya menambahkan bahwa model ini dapat diperluas ke segmen armada lain, terutama di tengah perubahan regulasi industri ride-hailing di Hong Kong.
Tahap pengembangan berikutnya bahkan dapat mencakup integrasi dengan platform digital commerce serta jaringan pengisian daya kendaraan listrik, sejalan dengan tren elektrifikasi dan mobilitas pintar.
Bagi Zurich, sektor taksi memiliki nilai ekonomi yang lebih luas. “Taksi di Hong Kong adalah denyut nadi kota,” kata Hui. “Dengan memanfaatkan AI dan telematika pintar, kami dapat melindungi mata pencaharian pengemudi sekaligus mendukung ekosistem transportasi yang lebih berkelanjutan dan tangguh.”