, India
2670 views
/Canara HSBC Life Insurance

Aturan modal paksa perusahaan asuransi India kurangi diskon agresif

Strategi diskon besar demi mengejar pangsa pasar jangka pendek dinilai semakin sulit dipertahankan.

Perusahaan asuransi jiwa di India diperkirakan harus meninjau kembali strategi penetapan harga dan penjualan produk seiring penerapan aturan permodalan yang lebih ketat, yang membuat praktik mendorong volume penjualan tinggi melalui diskon besar menjadi semakin sulit dilakukan, menurut eksekutif senior bancassurance.

“Di bawah rezim risk-based capital, diskon agresif demi mengejar pangsa pasar jangka pendek akan semakin sulit dibenarkan jika menimbulkan tekanan berlebihan terhadap modal,” kata Soly Thomas, Chief Distribution Officer untuk bancassurance di Canara HSBC Life Insurance Company Ltd., kepada Insurance Asia.

Perubahan ini diperkirakan paling berdampak pada produk tabungan dan produk dengan jaminan (guaranteed products), yang umumnya mengikat modal dalam jangka panjang. Perusahaan asuransi kemungkinan akan lebih selektif dalam menawarkan jaminan serta menentukan intensitas pemasaran produk, karena harga kini harus lebih mencerminkan risiko jangka panjang.

Bagi perusahaan yang sangat bergantung pada distribusi melalui bank, perubahan aturan ini juga berpotensi mengubah struktur kompensasi dan insentif bagi mitra perbankan.

Komisi dan target penjualan bisa disesuaikan, seiring perusahaan asuransi semakin menekankan efisiensi modal dan keberlanjutan produk, kata Thomas.

“Peralihan menuju kerangka risk-based capital merupakan salah satu reformasi struktural paling penting bagi industri dalam dekade ini,” ujarnya. “Ini akan mengubah secara mendasar cara kami memandang kekuatan neraca, bukan sekadar pertumbuhan headline.”

Langkah ini datang ketika sektor asuransi jiwa India terus berkembang, meskipun dinamika persaingan dan desain produk mengalami perubahan.

Menurut CareEdge Ratings, premi asuransi jiwa diperkirakan tumbuh 8% hingga 11% per tahun dalam dua tahun ke depan, didukung reformasi kebijakan, perluasan cakupan perlindungan, serta meningkatnya peran perusahaan asuransi swasta.

Asuransi jiwa mencakup sekitar 74% dari total premi asuransi di India pada 2025. Pertumbuhan terutama didorong perusahaan swasta, yang dalam dua dekade terakhir mencatat ekspansi premi lebih cepat dibanding Life Insurance Corp. of India.

Pemain swasta cenderung bersaing lebih agresif melalui harga, fitur produk, dan kemitraan perbankan, sehingga lebih terekspos terhadap aturan yang mengaitkan kebutuhan modal secara langsung dengan risiko.

Dari sisi produk, Thomas menilai perusahaan asuransi akan lebih memilih desain yang sederhana dan lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

“Risk-based capital mendorong perusahaan asuransi untuk mengutamakan desain yang efisien dari sisi modal, transparan, dan benar-benar selaras dengan kebutuhan nasabah,” katanya. “Produk dengan jaminan jangka panjang atau struktur kompleks yang menyerap modal besar akan mendapat pengawasan lebih ketat.”

Akibatnya, nasabah kemungkinan akan melihat lebih sedikit produk dengan jaminan tinggi dipasarkan secara agresif, sementara fokus akan bergeser ke proteksi dan perencanaan pensiun.

Thomas mengatakan pertumbuhan ke depan kemungkinan akan berpusat pada produk yang memenuhi kebutuhan nasabah tanpa memberikan tekanan berlebihan pada neraca perusahaan.

“Produk proteksi murni, solusi berbasis pensiun, serta produk tabungan dengan pembagian risiko yang tepat akan menjadi bagian utama strategi produk,” tambahnya.

Pandangan ini sejalan dengan analisis CareEdge, yang menilai banyak risiko utama masih belum terlindungi secara memadai meskipun cakupan asuransi secara nominal meningkat.

Walaupun semakin banyak masyarakat memiliki asuransi jiwa, banyak polis yang menawarkan nilai pertanggungan rendah atau manfaat pensiun dan anuitas terbatas, sehingga risiko jangka panjang belum sepenuhnya tertangani.

Tingkat penetrasi asuransi di India masih sekitar 2,8% dari produk domestik bruto, jauh di bawah negara maju. Namun, jumlah individu yang tercakup asuransi meningkat tajam hingga hampir 400 juta jiwa pada 2025, terutama didorong oleh polis grup dan produk berbasis kredit.

Pendekatan modal yang lebih ketat juga menuntut perusahaan asuransi memiliki manajemen investasi yang lebih disiplin terhadap kewajiban jangka panjang kepada pemegang polis.

Perusahaan perlu memiliki pemahaman yang lebih jelas mengenai faktor yang mendorong penggunaan modal, baik dari sisi suku bunga, perilaku nasabah, maupun pergerakan pasar, kata Thomas.

Perubahan ini juga dinilai dapat membawa dampak positif bagi kanal bancassurance. Kemitraan bank yang kuat dapat mendorong kualitas penjualan yang lebih baik serta retensi polis yang lebih tinggi, sehingga membantu perusahaan membangun portofolio bisnis yang lebih stabil.

Sejumlah kebijakan terbaru, termasuk penghapusan pajak atas premi asuransi jiwa individu, turut meningkatkan keterjangkauan produk, yang pada akhirnya mendukung permintaan dan nilai bagi nasabah.

“Anda juga akan melihat tingkat persistensi meningkat karena nasabah merasa memperoleh nilai lebih dari setiap premi yang mereka bayarkan,” tutup Thomas.

Follow the link s for more news on

Hong Kong tetapkan batas 50% untuk biaya referral asuransi

Pihak ketiga yang tak berlisensi sebelumnya bisa menguasai hingga 95% komisi melalui skema rebate tersembunyi.

Aturan modal paksa perusahaan asuransi India kurangi diskon agresif

Strategi diskon besar demi mengejar pangsa pasar jangka pendek dinilai semakin sulit dipertahankan.

Zurich Indonesia percepat proses klaim pascabanjir Bali

Penyelesaian klaim yang lebih cepat dinilai memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap asuransi sebagai solusi finansial yang nyata.

Zurich dan YAS gunakan AI untuk kaitkan asuransi taksi dengan perilaku berkendara

Pengemudi dengan skor lebih tinggi akan mendapatkan cakupan perlindungan yang lebih luas serta tambahan manfaat.

Produk wealth dan pensiun dorong kenaikan premi perusahaan asuransi Singapura

Ranking Top 50 Insurance 2024 menunjukkan pemulihan industri setelah perlambatan pada 2023.

Keluarga Asia belum siap wariskan kekayaan, kepercayaan diri masih rendah

Dua pertiga masyarakat Asia khawatir kekayaan mereka tidak mampu bertahan lintas generasi.

Ciputra Life bidik pertumbuhan nasabah di luar jaringan grup

Permintaan manfaat kesehatan yang meningkat mendorong penguatan kerja sama dengan perusahaan dan perbankan.

Perusahaan asuransi perlu perluas perlindungan siber seiring pemilik kapal Singapura tingkatkan keamanan

Penanggung harus memperbarui model underwriting saat gangguan navigasi berbasis siber semakin meningkat.

MSIG Malaysia tingkatkan investasi data untuk dorong pertumbuhan

CEO menilai masa depan industri asuransi bergantung pada produk yang lebih terjangkau.

Great Eastern perkuat strategi lewat AI dan produk spesialis

Perusahaan asuransi ini menargetkan ekspansi produk untuk nasabah high-net-worth dan pemilik UMKM.