Keluarga Asia belum siap wariskan kekayaan, kepercayaan diri masih rendah
Dua pertiga masyarakat Asia khawatir kekayaan mereka tidak mampu bertahan lintas generasi.
Banyak keluarga di Asia memandang perencanaan warisan sebagai langkah penting untuk menjaga keberlanjutan kekayaan. Namun, sebagian besar belum memiliki strategi pewarisan yang terstruktur akibat tabu budaya dalam membahas kematian serta keraguan terhadap kemampuan ahli waris dalam mengelola aset, menurut Sun Life Financial, Inc.
Hampir dua pertiga masyarakat Asia khawatir kekayaan mereka tidak mampu bertahan lintas generasi, berdasarkan survei Sun Life Asia.
Lebih dari separuh responden menyatakan kekhawatiran bahwa ahli waris tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mempertahankan atau meningkatkan aset yang diwariskan. Tingkat kecemasan tertinggi ditemukan di kalangan rumah tangga affluent, di mana 28% responden menyebut diri mereka sangat khawatir terhadap keberlanjutan kekayaan jangka panjang.
Chief Client and Distribution Officer Sun Life Asia, David Broom, mengatakan keresahan ini muncul di tengah perubahan pola konsumsi informasi keuangan di kalangan generasi muda.
“Jika melihat Gen Z, banyak dari mereka masih mengandalkan keluarga atau penasihat profesional untuk membangun literasi finansial—tetapi sebelum itu, mereka mencari informasi secara online,” ujarnya kepada Insurance Asia.
Meski kesadaran terhadap pentingnya persiapan masa depan cukup tinggi, tingkat kepercayaan diri masih rendah. Sebanyak 70% responden menilai perlindungan dan keamanan finansial sebagai elemen terpenting dalam perencanaan warisan, namun hanya sekitar seperlima yang merasa benar-benar siap jika meninggal hari ini. Sebanyak 31% lainnya bahkan mengaku belum memiliki rencana sama sekali.
Menurut Broom, kesenjangan antara niat dan kesiapan ini menjadi peluang bagi perusahaan asuransi untuk merancang solusi legacy planning yang lebih luas dan holistik, bukan hanya berfokus pada transfer kekayaan atau perlindungan aset semata.
“Fokus saat ini adalah personalisasi—didukung oleh data dan pemahaman yang lebih mendalam terhadap siapa nasabah itu, lalu memberikan dukungan, proposisi, dan konten yang relevan di setiap fase kehidupan mereka,” katanya.
Ia menegaskan bahwa legacy planning tidak terbatas pada distribusi kekayaan. Bagi banyak masyarakat Asia, warisan juga mencakup nilai keluarga, tradisi, dan pengaruh personal.
“Tidak semua orang bisa meninggalkan kekayaan dalam jumlah besar,” kata Broom. “Tetapi dengan perencanaan dan niat yang jelas, setiap orang punya kesempatan untuk mewariskan sesuatu.”
Menurutnya, warisan dapat berupa pengetahuan, kekayaan, maupun tradisi keluarga, tergantung siapa yang dianggap sebagai keluarga dan orang terdekat.
Namun, ketidaknyamanan budaya masih menjadi hambatan utama. Pembicaraan mengenai kematian dinilai sensitif di banyak negara Asia dan sering dihindari.
“Membicarakan kematian dan apa yang akan dilakukan ketika kita sudah tiada adalah topik yang sulit. Di Asia, ini masih sedikit tabu,” ujarnya.
Ketika ketidaknyamanan tersebut berpadu dengan rendahnya rasa percaya diri, proses perencanaan warisan pun sering terhenti.
Di sisi lain, keluarga juga menginginkan warisan yang memiliki manfaat nyata. Studi Sun Life menemukan 59% responden lebih memilih kekayaan diwariskan dalam bentuk investasi jangka panjang melalui aset finansial, asuransi, atau bisnis keluarga.
Persentase yang sama ingin warisan digunakan untuk kebutuhan dasar seperti perumahan dan layanan kesehatan, sementara 56% menargetkan pembiayaan pendidikan.
Broom menilai perusahaan asuransi dapat merespons kebutuhan tersebut dengan menghadirkan solusi yang lebih menyeluruh. Produk penyakit kritis, misalnya, dapat dilengkapi layanan pemulihan, dukungan kesehatan mental, atau second medical opinion, bukan hanya berfokus pada pembayaran klaim.
Sun Life Asia sendiri memanfaatkan teknologi AI untuk mendukung layanan. Asisten virtual berbasis AI perusahaan saat ini menangani lebih dari 16.000 pertanyaan setiap bulan, sekaligus mengurangi panggilan ke hotline penasihat lebih dari 40%.
“Automated underwriting kami membantu memangkas waktu penerbitan polis hingga 30%, sementara proses klaim juga semakin cepat sehingga nasabah dapat menerima pembayaran lebih awal,” kata Broom.
“Ke depan, kami akan lebih banyak berfokus pada solusi yang benar-benar holistik dari awal hingga akhir,” ujarnya.