, Singapore
1385 views
From left to right: Michelle Fang, chief marketing officer at Manulife (Singapore); Claudia Soh, acting CEO and chief financial officer at Etiqa; and Helen Shen, group head of products at Singlife

Asuransi Singapura perluas cakupan dari sekadar proteksi ke perencanaan kekayaan

Hanya 41% konsumen yang memiliki asuransi jiwa.

Perusahaan asuransi di Singapura kian memperluas fokusnya dari sekadar produk proteksi tradisional, seiring nasabah yang makin membutuhkan bantuan dalam akumulasi kekayaan, pendapatan masa pensiun, dan perencanaan warisan.

“Nasabah saat ini cenderung tidak lagi memandang kebutuhan-kebutuhan tersebut secara terpisah,” ujar Michelle Fang, Chief Marketing Officer di Manulife (Singapore) Pte. Ltd., kepada Insurance Asia.

“Mereka berharap perusahaan asuransi bisa membantu menghubungkan berbagai aspek kehidupan finansial mereka, mulai dari kebutuhan proteksi dan kesehatan, hingga perencanaan pensiun, akumulasi kekayaan, dan pertimbangan warisan,” tambahnya.

Pergeseran ini terjadi kendati celah proteksi masih lebar. Data dari Manulife Asia Care Survey 2025 menunjukkan bahwa meski 72% responden meyakini kesejahteraan finansial berpengaruh terhadap kesehatan fisik, dan 70% menyebut asuransi memberi ketenangan pikiran di masa pensiun, hanya 35% yang memiliki asuransi penyakit kritis dan 41% yang memiliki asuransi jiwa.

Menurut Fang, kenaikan biaya hidup dan berbagai prioritas finansial yang saling bersaing membuat konsumen lebih selektif dalam membelanjakan uangnya, sehingga memaksa perusahaan asuransi untuk menunjukkan nilai lebih dari sekadar cakupan tradisional.

“Kenaikan biaya hidup dan prioritas finansial yang saling berebut membuat konsumen semakin cermat dalam mengalokasikan uang mereka,” ujarnya.

Perubahan ekspektasi ini turut membentuk ulang pengembangan produk di seluruh industri. Manulife mengatakan pihaknya melihat permintaan yang terus tumbuh untuk solusi yang memadukan akumulasi kekayaan, pendapatan pensiun, dan perencanaan warisan.

Tren serupa juga terlihat di Singapore Life Ltd. (Singlife), di mana permintaan nasabah kian meluas melampaui sekadar proteksi.

“Seiring Singapura memasuki fase super-aged, kami melihat permintaan terkuat pada dua area: proteksi perawatan jangka panjang, serta pendapatan pensiun yang dipadukan dengan perencanaan warisan,” ujar Helen Shen, Group Head of Products di Singlife, dalam balasan tertulis atas pertanyaan yang diajukan.

Ia menambahkan, permintaan asuransi jiwa kini berkembang ke arah produk yang memadukan penghasilan rutin dengan transfer kekayaan.

Pergeseran ini juga terlihat di Etiqa Insurance Pte. Ltd. Berdasarkan survei wealth transfer 2025 milik perusahaan tersebut, 49% masyarakat Singapura menggunakan asuransi untuk mewariskan kekayaan ke generasi berikutnya.

“Menjelang masa pensiun, prioritas finansial biasanya bergeser ke kebutuhan perawatan kesehatan jangka panjang, pelestarian kekayaan, dan perencanaan warisan untuk generasi berikutnya,” ujar Claudia Soh, Acting CEO sekaligus Chief Financial Officer di Etiqa, dalam tanggapan tertulis.

Meski industri kian bergerak menuju solusi kekayaan dan pensiun, perusahaan asuransi menyebut kebutuhan proteksi masih jauh dari optimal penetrasinya.

Fang mencatat, keterlibatan nasabah biasanya masih dipicu oleh peristiwa tertentu seperti klaim, tinjauan polis, atau momen-momen penting tertentu, ketimbang dari evaluasi menyeluruh atas perubahan kebutuhan finansial mereka.

Untuk memperdalam keterlibatan tersebut, perusahaan asuransi kini merambah ke layanan-layanan pendukung. Singlife menghubungkan nasabahnya dengan penyedia layanan kesehatan dan dukungan pemulihan, sementara Manulife menawarkan akses ke skrining deteksi multi-kanker melalui kemitraan dengan Guardant Health.

Etiqa turut mencatat pertumbuhan di segmen-segmen baru di luar asuransi jiwa tradisional, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 20% pada asuransi hewan peliharaan (pet insurance).

Follow the link s for more news on

Manulife Asia dorong AI untuk kejar pertumbuhan health dan wealth

Perusahaan asuransi asal Kanada ini menargetkan nilai lebih dari US$1 miliar dari AI pada 2027.

Bagaimana celah asuransi siber dapat membuat kerusakan pada pabrik

Penghentian produksi bisa lebih merugikan dibanding pencurian data bagi operator industri.

Bencana beruntun ungkap celah asuransi di Filipina

Hanya 10 dari 51 perusahaan asuransi nonlife yang tergabung dalam pool risiko bencana.

Asuransi Jepang lepas kepemilikan saham korporasi usai kasus pelanggaran

Kelompok-kelompok besar berencana memangkas saham strategis hingga nol dalam enam hingga tujuh tahun ke depan.

Asuransi Malaysia berlomba memperbaiki customer journey

Empati dan transparansi menjadi keunggulan kompetitif.

Singapura targetkan pertumbuhan asuransi captive

Perusahaan berskala lebih kecil berpotensi mendapatkan cara mengelola risiko dengan biaya lebih rendah.

CIMB gabungkan asuransi Takaful dan pinjaman untuk pembeli mobil pertama kali

Program ini mencakup pajak kendaraan, perlindungan kehilangan kendaraan, dan Takaful.

Perang Timur Tengah ungkap risiko arus kas bagi UKM Singapura

CEO UOI Andrew Lim mengatakan banyak bisnis masih kurang terproteksi di tengah biaya operasional yang terus naik.

EFGH mengandalkan embedded microinsurance untuk jangkau pasar di luar segmen kaya Singapura

Sebagian besar konsumen tidak membutuhkan polis asuransi besar, ujar CEO EFGH David Ng.

Kerugian akibat fraud ungkap ketertinggalan sistem pembayaran asuransi Hong Kong

Cek fisik dan proses manual masih bertahan meski biaya fraud capai 5% dari pendapatan.