Hong Kong healthcare dorong kejelasan harga, uji klinis, dan kapasitas bioteknologi
Enam dari 10 pasien tunda pengobatan akibat kekhawatiran biaya.
Sektor healthcare Hong Kong tengah mengalihkan fokus ke transparansi harga, kapasitas uji klinis, dan infrastruktur bioteknologi, seiring perusahaan asuransi, rumah sakit, dan perusahaan life science merespons ketidakpastian biaya yang meningkat serta celah dalam kapasitas pengembangan obat.
Arjan Toor, CEO, Health di Prudential plc, mengatakan kekhawatiran soal keterjangkauan biaya lebih banyak dipicu oleh minimnya kejelasan di awal, ketimbang besaran biaya pengobatan itu sendiri, yang kerap membuat orang menunda mencari perawatan.
“Ini bukan soal biaya secara absolut, melainkan lebih ke ketidakpastian yang dihadapi orang-orang, karena tidak tahu berapa biaya pengobatannya, apa saja yang ditanggung asuransi, dan pada akhirnya berapa yang harus mereka bayar sendiri,” ujarnya dalam sebuah wawancara.
Toor mengatakan enam dari 10 pasien di Hong Kong menunda pengobatan karena khawatir soal biaya, mengutip riset Patient Voices dari Prudential yang mensurvei lebih dari 4.200 pasien di empat pasar Asia. Lebih dari separuh responden di Hong Kong juga mengaku tagihan akhir mereka lebih tinggi dari perkiraan awal.
Inflasi biaya medis di Hong Kong diperkirakan mencapai 9,9% pada 2026, menurut Mercer Marsh Benefits, bagian dari Marsh & McLennan Companies, Inc. Lembaga ini juga mencatat Asia mencatatkan tingkat tren biaya medis tertinggi di dunia pada 2025, yakni 13%.
Kwok Quek Sin, Group Chief Business Technology Officer di IHH Healthcare Berhad, mengatakan kecerdasan buatan (AI) kini dimanfaatkan untuk memperbaiki estimasi biaya, visibilitas cakupan asuransi, serta perencanaan biaya yang ditanggung sendiri oleh pasien.
“Setiap kali pasien akan ke rumah sakit, selain mengkhawatirkan kondisi kesehatannya sendiri, mereka juga harus memikirkan biayanya,” ujarnya dalam wawancara terpisah.
Ia menekankan bahwa AI sebaiknya diterapkan sebagai alat operasional, bukan sekadar investasi yang mengikuti tren, dengan fokus pada hasil klinis, efisiensi rumah sakit, dan pengendalian biaya.
Kepala Eksekutif Hong Kong John Lee Ka-chiu mengatakan dalam Asia Summit on Global Health pada Mei lalu bahwa isu utama kini bergeser ke soal apakah teknologi kesehatan bisa diubah menjadi alat yang bermanfaat secara klinis, layak secara komersial, dan terjangkau dalam skala besar.
Ia mengatakan Hong Kong berencana memperluas kapasitas uji klinis dan memperbaiki jalur dari riset menuju aplikasi komersial. Ia menyebut Greater Bay Area International Clinical Trial Institute, yang dioperasikan oleh University of Hong Kong, sebagai bagian dari upaya tersebut.
Anggaran pemerintah untuk 2026-2027 memuat kerangka riset teknologi life and health bertajuk “One plus Three” yang berpusat di Hetao Hong Kong Park, sementara policy address 2025 mengusulkan pembentukan regulator produk medis serta jalur persetujuan obat yang lebih cepat.
Zhu Tian, co-founder sekaligus CEO GenEditBio Ltd., mengatakan Hong Kong masih kekurangan kapasitas contract manufacturing bersama untuk terapi tingkat lanjut (advanced therapies).
“Untuk produk biologis, prosesnya adalah produk itu sendiri,” kata Zhu. “Jadi kami harus mencurahkan banyak sumber daya dan waktu untuk kimia, manufaktur, serta penyempurnaan dan optimalisasi kontrolnya.”
Ia menambahkan bahwa fasilitas manufaktur bersama di Hetao dapat membantu startup melangkah dari riset laboratorium menuju uji coba tahap awal pada manusia.
Zhu juga menyoroti perbedaan regulasi antarpasar serta kondisi permodalan yang tidak merata sebagai kendala utama bagi pengembang terapi sel dan gen.
“Kami perlu memastikan modal yang tersedia cukup,” ujar Zhu. “Lingkungan pasar modal masih diliputi sejumlah ketidakpastian, sehingga untuk setiap tahap perkembangan bioteknologi, strategi exit-nya perlu lebih seimbang.”