, Singapore
793 views

Wong Sze Keed bangun budaya yang mengutamakan manusia di AIA

"Kepemimpinan harus berpijak pada kejelasan, keberanian, dan kemanusiaan."

Bagi Wong Sze Keed, menjadi CEO AIA Singapore Pvt. Ltd. di puncak pandemi COVID-19 bukan sekadar pencapaian karier, melainkan sebuah ujian kepemimpinan yang menentukan.

Mengambil alih posisi tersebut pada 2020, ia dipaksa mengambil keputusan berisiko tinggi di tengah ketidakpastian ekstrem, menyeimbangkan kelangsungan bisnis dengan tanggung jawab melindungi karyawan, agen, dan nasabah yang menghadapi salah satu periode paling penuh gejolak dalam sejarah belakangan ini.

"Momen-momen itu mengukuhkan keyakinan saya bahwa kepemimpinan di AIA harus berpijak pada kejelasan, keberanian, dan kemanusiaan—nilai-nilai yang memastikan kami mengutamakan karyawan dan nasabah di atas segalanya," kata Wong dalam jawaban tertulis melalui email.

Kini, prinsip-prinsip tersebut membentuk cara AIA Singapore membangun jalur kepemimpinannya, menanamkan kesetaraan dalam keputusan promosi, serta mengaitkan keberagaman secara langsung dengan kinerja bisnis.

Di bawah kepemimpinannya, perempuan kini menempati 40% posisi kepemimpinan senior di AIA Singapore—dua kali lipat dari rata-rata industri. Wong menilai pencapaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil rancangan yang disengaja: kriteria promosi yang terukur, evaluasi yang sadar akan bias, jalur kepemimpinan yang jelas, serta dukungan aktif dari jajaran senior.

Bagi Wong, kepemimpinan yang inklusif bukanlah sekadar inisiatif sosial. Ini adalah disiplin strategis—yang memperkuat pengambilan keputusan, mempertajam manajemen risiko, dan membangun ketangguhan dalam bisnis yang berpusat pada manusia.

Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Bagaimana AIA membuat promosi ke posisi kepemimpinan menjadi lebih setara?

"Saya sangat meyakini bahwa kesetaraan tidak bisa diserahkan pada kebetulan; ia harus dirancang ke dalam sistem. Di AIA Singapore, kami secara sengaja dan proaktif berfokus pada praktik perekrutan dan promosi yang beragam serta bebas bias, tidak hanya bagi perempuan, tetapi bagi seluruh talenta yang sedang berkembang.

Kami menyadari perlunya upaya yang lebih terarah untuk menanamkan prinsip keberagaman, kesetaraan, dan inklusi di setiap tahap jalur pengembangan talenta kami, dimulai dari langkah paling awal.

Untuk itu, kami mengevaluasi ulang kriteria penilaian promosi agar berfokus pada kinerja dan perilaku kepemimpinan yang terukur, bukan persepsi subjektif tentang kesiapan seseorang. Kami melengkapinya dengan pelatihan unconscious bias bagi para hiring manager guna memastikan penilaian yang lebih adil. Ini memastikan bahwa potensi diakui dan dihargai berdasarkan kapabilitas, bukan stereotip atau bias yang tidak disadari.

Melalui program mentorship Komite Eksekutif, kami membina individu-individu berpotensi tinggi—termasuk perempuan—dan membantu mereka mendapatkan eksposur terhadap percakapan kepemimpinan senior serta pengambilan keputusan strategis sejak awal karier mereka."

Bagaimana keberagaman kepemimpinan berdampak pada kinerja bisnis yang lebih baik?

"Di AIA Singapore, kami bangga telah membangun salah satu tim kepemimpinan paling seimbang secara gender di industri ini, dengan perempuan menempati 40% posisi kepemimpinan senior, di industri yang biasanya hanya memiliki sekitar 20% perempuan di posisi C-suite.

Keberagaman perspektif ini telah menghasilkan empati pelanggan yang lebih kuat, pengambilan keputusan yang lebih seimbang, dan penilaian risiko yang lebih tajam—keunggulan mendasar dalam industri yang mengutamakan manusia seperti asuransi.

Menurut pengalaman saya, tim kepemimpinan yang beragam meningkatkan kinerja finansial bukan semata karena 'ide yang lebih baik,' melainkan karena keputusan yang lebih baik.

Ketika para pemimpin tidak berpikir dengan cara yang seragam, mereka terdorong untuk menilai risiko dan keputusan dari berbagai perspektif serta menguji asumsi sejak awal proses pengambilan keputusan, sehingga mengurangi titik buta strategis dan menghindari koreksi arah yang mahal di kemudian hari.

Tim yang beragam juga lebih mampu mengantisipasi pergeseran kebutuhan konsumen, beradaptasi dengan perubahan pasar, dan berinovasi secara berani, sehingga membantu perusahaan meraih keunggulan kompetitif."

Bagaimana Anda membuat kerja fleksibel dapat berjalan efektif bagi para pemimpin perempuan senior?

"Di tengah berbagai ekspektasi return-to-office yang berkembang di berbagai organisasi, kami sangat sengaja menjaga fleksibilitas sebagai bagian dari budaya kami. Kebijakan tempat kerja yang inklusif, seperti pengaturan kerja fleksibel, memungkinkan perempuan menyeimbangkan berbagai tanggung jawab tanpa mengorbankan pertumbuhan karier mereka.

Perempuan dapat berkembang baik dalam kehidupan profesional maupun personal, dan di AIA Singapore, kami berkomitmen menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka melakukan keduanya. Di AIA, 'Believe in Better' bukan sekadar program; ini adalah bagian inti dari budaya kami. Melalui inisiatif ini, kami menawarkan berbagai manfaat yang dirancang untuk mendukung kesejahteraan karyawan, termasuk wellness days, sesi konseling gratis, asuransi kesehatan mental, webinar wellness, serta flexi-cash untuk membantu menutup biaya terkait kesejahteraan.

Sebagai fitur unik dari inisiatif ini, kami memperkenalkan 'Believe in Better Days,' yang memberikan karyawan waktu libur di sore hari pada Jumat kedua setiap bulan untuk fokus pada kesejahteraan pribadi dan menikmati waktu berkualitas bersama keluarga.

Untuk benar-benar berkembang di tempat kerja, karyawan membutuhkan lebih dari sekadar alat dan keterampilan yang tepat—mereka perlu merasa didukung, baik secara mental maupun fisik. Dengan menanamkan kebijakan yang inklusif dan kesejahteraan holistik ke dalam budaya kami, kami menciptakan lingkungan di mana setiap orang dapat menampilkan versi terbaik dirinya di tempat kerja. Ketika para pemimpin—baik perempuan maupun laki-laki—merasa didukung di tempat kerja, mereka cenderung lebih bertahan, berkembang, dan menciptakan dampak yang berarti. Bagi saya, kebijakan inklusif ini jauh lebih dari sekadar soal retensi; ini adalah investasi strategis dalam membangun kepemimpinan yang tangguh untuk jangka panjang."

Jika Anda bisa mengubah satu norma industri dalam semalam untuk mempercepat kesetaraan gender, apa yang akan Anda pilih?

"Saya percaya bahwa gairah dan bakat seharusnya menjadi satu-satunya prasyarat bagi kepemimpinan. Salah satu tantangan paling persisten yang dihadapi para pemimpin perempuan di tempat kerja adalah menghadapi bias yang tidak disadari (unconscious bias). Bias ini masih membentuk cara perilaku kepemimpinan dimaknai. Sikap asertif, ambisi, dan kepercayaan diri sering kali dipandang sebagai 'potensi kepemimpinan' pada laki-laki, tetapi dinilai lebih keras pada perempuan. Bias-bias tidak disadari ini dapat mengaburkan kapabilitas sesungguhnya, membatasi peluang bagi individu-individu berbakat dan layak mendapatkannya."

Keputusan karier apa yang Anda ambil yang pada akhirnya membentuk pertumbuhan Anda sebagai pemimpin?

"Momen yang paling menentukan dalam karier saya adalah ketika saya melangkah ke peran CEO AIA Singapore pada 2020, di puncak pandemi. Dalam banyak hal, memulai perjalanan saya sebagai CEO di tengah situasi tersebut adalah hal terbaik yang bisa terjadi dalam karier profesional saya.

Sepanjang periode yang penuh tantangan ini, saya berpegang pada esensi AIA yaitu kejelasan, keberanian, dan kemanusiaan untuk memandu setiap keputusan, memastikan nilai-nilai kami tetap menjadi yang utama saat kami menghadapi ketidakpastian. Dalam periode ketidakpastian yang mendalam ini, setiap keputusan menuntut pertimbangan yang cermat. Ini bukan sekadar soal kelangsungan bisnis atau kinerja finansial; ini juga soal melindungi mata pencaharian dan mendukung karyawan yang untuk pertama kalinya bekerja dari jarak jauh, membimbing para konsultan AIA yang berada di garis depan melayani nasabah, serta memastikan pemegang polis merasa aman di salah satu periode paling rentan dalam hidup mereka.

Momen-momen itu mengukuhkan keyakinan saya bahwa kepemimpinan di AIA harus berpijak pada kejelasan, keberanian, dan kemanusiaan—nilai-nilai yang memastikan kami mengutamakan karyawan dan nasabah di atas segalanya. Pengalaman ini menjadi ujian nyata yang tidak hanya menguji kemampuan kepemimpinan saya, tetapi juga apa yang paling saya junjung sebagai seorang pemimpin. Memimpin di masa penuh gejolak ini memaksa saya untuk menemukan kejelasan dan mengukuhkan, sejak hari pertama, standar kepemimpinan yang akan saya pegang teguh: manusia harus selalu diutamakan."

Follow the link for more news on

Premi risiko perang di Singapura naik seiring gangguan wilayah udara Teluk

Maskapai alihkan rute di jalur Asia–Timur Tengah, sementara perusahaan asuransi menilai ulang eksposur dan risiko harga.

Perempuan kaya di Asia-Pasifik dorong perombakan perencanaan warisan

Pertumbuhan yang stabil dan keterlibatan sejak dini mengubah pendekatan advisory, dari sekadar transfer transaksional menjadi proses yang lebih menyeluruh.

Sun Life Filipina genjot tenaga penjualan dan bancassurance di bawah CEO baru

Perusahaan ini terus mendorong penetrasi asuransi di negara yang menganggap kematian dan uang sebagai topik tabu.

Wong Sze Keed bangun budaya yang mengutamakan manusia di AIA

"Kepemimpinan harus berpijak pada kejelasan, keberanian, dan kemanusiaan.

HDI Global incar pertumbuhan asuransi komersial dan siber di Jepang

Siber merupakan salah satu risiko yang paling cepat berkembang, dan Jepang masih memiliki ruang untuk tumbuh di pasar asuransi siber ini.

Shweta Swaroop dari Howden dorong transparansi data gaji di industri asuransi

Keterbukaan data yang jelas mendorong akuntabilitas dan perubahan nyata untuk menutup kesenjangan gender.

Bagaimana pilihan karier membentuk perjalanan Chin Wei Lin di Singlife

Langkah profesional yang paling berarti tidak selalu berupa promosi, melainkan yang membangun kepercayaan.

Perusahaan asuransi kekayaan di Asia hadapi tekanan kepatuhan yang meningkat

Aturan anti-pencucian uang dan keterbukaan informasi yang lebih ketat memperlambat proses onboarding.

Tata kelola yang lebih baik dorong kepemimpinan perempuan, kata Leah Ng dari Manulife

Kesetaraan tidak bisa hanya mengandalkan niat baik, harus dibangun dalam sistem.

Nina Ong dorong pembaruan AI dan talenta di Great Eastern Life

Bos besar ini kaitkan keunggulannya dengan keberagaman dimana lebih dari sepertiga posisi senior diisi perempuan.