, Singapore
146 views

50 perusahaan asuransi teratas Singapura mengungkapkan peningkatan aset 17,22%

Menurut Singapore Business Review, dominasi digital dan teknologi kesehatan membantu mereka mengurangi kerugian.

Perusahaan asuransi teratas di peringkat asuransi tahunan yang diadakan oleh Singapore Business Review memperhatikan dominasi digital, teknologi kesehatan, dan praktik lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG). Memasukkan faktor-faktor ini membantu mereka mengurangi potensi kerugian dari ancaman perubahan iklim yang membayangi mereka, sembari memanfaatkan peluang pertumbuhan yang disajikan dalam ekonomi nol-bersih.

Dalam tinjauan tahunan oleh Singapore Business Review tentang sektor asuransi, 50 perusahaan asuransi teratas dari Singapura memperoleh $313 miliar dalam aset pada 2020, naik 17,22% dari $ 267 miliar di  2019. Penanggung masih melihat aset mereka tumbuh; Namun, beberapa dari mereka menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang lebih lambat dibandingkan dengan peringkatnya pada 2019.

Great Eastern mempertahankan posisi teratas dalam hal aset di angka $69 miliar pada 2020, lonjakan 13,1% dari $61 miliar pada 2019. AIA Singapore mengikuti hampir di belakang pada $58 miliar, naik pada tingkatan yang hampir sama pada 13,7% dari $51 miliar di peringkat tahun lalu.

Prudential Singapore mempertahankan peringkat ketiga dengan asetnya yang naik 13,3% dari $45 miliar menjadi $51 miliar. Namun, tingkat kenaikannya turun beberapa poin dari peningkatan 19% dari peringkat tahun lalu.

Sementara itu, NTUC Income, dengan tingkat kenaikan 10% dari $40 miliar menjadi $44 miliar menurun dari tingkat pertumbuhan 14,1% pad 2019, bertahan di tempat keempat. Yang berada di peringkat kelima adalah Manulife Singapura dengan aset senilai $27 miliar pada 2020, naik dari $19 miliar pada 2019.

Dominasi digital

CEO NTUC Income, Andrew Yeo, mengatakan bahwa proposisi asuransi digital pertama akan terus mendapatkan daya tarik. Hal ini terutama karena adanya konsumen digital dari produk make up yang mana 79% konsumennya adalah orang Singapura berusia 15 tahun ke atas, menurut sebuah laporan oleh Meta.

 “Ada selera yang meningkat untuk layanan digital dengan 30% warga Singapura mengharapkan untuk menghabiskan uangnya lebih banyak untuk layanan keuangan dan kesehatan digital pasca-COVID. Hal ini akan memicu permintaan baru untuk penawaran asuransi digital pertama dan inovasi asuransi yang membuat asuransi dapat diakses dan memenuhi kebutuhan populasi digital pertama yang terus bertambah," kata Yeo.

Yeo mengatakan mereka telah melihat hal ini sejak adanya SNACK by Income, yang merupakan platform asuransi mikro dan investasi berbasis gaya hidup, yang mereka luncurkan pada 2020. Tingkat penerimaan telah meningkat dengan lebih dari 70% pelanggan SNACK merupakan pelanggan-pelanggan baru.

Allied Market Research, sebuah perusahaan riset pasar global, mengatakan bahwa pasar asuransi digital memiliki potensi untuk mencapai US$279,51 miliar pad 2030, dengan lonjakan permintaan untuk platform hemat biaya dan personalisasi produk asuransi yang mendorong pertumbuhan pasarasuransi digital global.

Namun, proses transformasi digital yang memakan waktu dan masalah privasi serta keamanan membatasi pasar sampai ke batas tertentu. Di sisi lain, peningkatan adopsi solusi digital menghadirkan peluang baru di tahun-tahun mendatang — yang menurut Yeo hal itu harus dimanfaatkan.

Penanggung harus mengkonsolidasikan pembelajaran dan pengalaman dari peluncuran penawaran asuransi digital pertama secara lokal untuk menangkap keuntungan penggerak pertama dengan membawa inovasi ini ke pasar luar negeri.

Meskipun demikian, CEO AIA Singapura Wong Sze Keed mengatakan hal ini: “Penting untuk memperlakukan teknologi sebagai enabler dan bukan pengganti sentuhan manusia. Strategi digitalisasi harus menjadi yang pertama bagi orang-orang sehingga pelanggan bisa mendapatkan interaksi yang dipersonalisasi yang sangat mereka hargai, terutama dalam hal membuat keputusan pembelian untuk asuransi jiwa."

Menurut sebuah penelitian oleh Deloitte, meskipun bisnis sedang mengembangkan platform online dan mengurangi layanan tatap muka, interaksi manusia akan terus menjadi aset dan menyarankan agar respons real time serta kemampuan untuk berinteraksi dapat dimasukkan dalam platform digital demi meningkatkan pengalaman pengguna.

Kepedulian terhadap kesehatan tengah tumbuh

Ada juga peningkatan kesadaran kesehatan di antara warga Singapura sejak pandemi. Sebuah survei terbaru oleh Prudential menemukan bahwa sekitar 61%-nya menggunakan teknologi kesehatan pribadi.

Menurut Chief customer officer Prudential Singapore, Goh Theng Kiat, perusahaan asuransi dapat mengambil keuntungan dari meningkatnya penggemar kesehatan dengan membangun kemitraan yang lebih kuat dengan penyedia teknologi kesehatan untuk mengembangkan cara-cara yang lebih inovatif dalam mempromosikan gaya hidup sehat.

Sebagai contoh, Prudential plc baru-baru ini menjalin kemitraan dengan Smarter Health agar memungkinkan pengguna aplikasi Pulse dapat mengakses direktori dokter spesialis dan layanan skrining kesehatan serta membuat janji secara online.

 Ketika kekhawatiran akan peningkatan kesehatan, asuransi jiwa pun melihat pertumbuhan yang positif tahun lalu dengan bisnis baru meningkat sebesar 38% YoY, menurut angka terbaru oleh Life Insurance Association of Singapore.

Sze Keed menambahkan bahwa kenaikan ini pasti karena konsumen telah menyadari betapa meresahkannya jika mereka kurang terlindungi, itulah sebabnya warga Singapura menjadi lebih proaktif dalam mencari solusi asuransi demi ketenangan pikiran mereka.

Dampak iklim dan ESG

Dalam sebuah studi oleh Blackrock, sembilan dari 10 perusahaan asuransi di seluruh dunia khawatir akan dampak risiko iklim.

Menurut Global head of the financial institution group and financial markets advisory di BlackRock, Charles Hatami mayoritas perusahaan asuransi memandang risiko iklim sebagai risiko investasi dan memosisikan portofolio untuk memitigasi risiko serta memanfaatkan peluang transformasional yang disajikan oleh transisi ke ekonomi nol-bersih.

Sebuah laporan risiko iklim juga menghitung bahwa Asia Pasifik mengalami kerugian ekonomi keseluruhan sebanyak US$50 miliar di mana US$9 miliar-nya telah diasuransikan. Bencana alam global menyebabkan sekitar US$120 miliar di mana US$110 miliar diasuransikan.

 

Ancaman perubahan iklim mendorong perusahaan asuransi untuk mengadopsi lebih banyak praktik ESG (Environment, Social, Governance). Menurut jajak pendapat industri dari Agustus hingga November 2021 oleh GlobalData, 21,6% mengatakan bahwa mitigasi risiko jangka panjang yang disebabkan oleh perubahan iklim adalah pendorong utama untuk adopsi dan integrasi ESG .

Senior Insurance Analyst GlobalData, Beatriz Benito mengatakan bahwa prospek risiko iklim yang menantang akan terus mendorong perusahaan asuransi, terutama mereka yang belum merangkul ESG ke dalam nilai dan operasi perusahaan mereka.

“Meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan bencana alam tertentu telah menyebabkan perusahaan asuransi memikirkan kembali pendekatan mereka terhadap cakupan penjaminan emisi. Asia adalah salah satu daerah yang paling terpapar dampak merusak perubahan iklim termasuk gelombang panas yang hebat, peningkatan hujan lebat dan suhu yang mengarah ke penyakit, dan cuaca ekstrem yang mengakibatkan banjir dan kekeringan. Penanggung harus memikirkan kembali strategi dan pendekatan mereka untuk melakukan tanggung jawab dan tindakan untuk membantu mengatasi dampak perubahan iklim yang menantang, ” kata AIA Singapore Sze Keed.

Sementara itu, untuk Prudential Singapore's Goh, perusahaan asuransi dapat melakukan bagian mereka untuk mengurangi dampak perubahan iklim dengan memberikan lebih banyak pilihan bagi orang-orang untuk berpartisipasi dalam investasi berkelanjutan dan mendukung transisi inklusif menuju ekonomi rendah karbon.

Yeo dari NTUC Income mengatakan bahwa penting bagi perusahaan asuransi untuk menilai risiko terkait iklim terhadap bisnis mereka dan memahami di mana dampak material mereka berada.

Dia mengatakan bahwa dengan memahami jejak karbon di lini bisnis mereka, perusahaan asuransi selanjutnya dapat membuat penilaian berdasarkan informasi tentang jenis dan tingkat tindakan yang dapat mereka ambil untuk memengaruhi perilaku korektif dan mendorong perubahan secara internal dan eksternal.

Masa depan industri asuransi

Dengan industri asuransi terus bergeser dan berubah, para veteran industri ini berbagi wawasan mereka tentang perubahan apa yang dapat diharapkan oleh perusahaan asuransi di masa depan.

Menurut Yeo dari NTUC Income, mereka percaya asuransi akan semakin didorong oleh gaya hidup. Itulah sebabnya mereka mulai melayani konsumen digital pertama saat ini dengan produk dan layanan mereka untuk membuat asuransi lebih mudah diakses dan juga terjangkau.

 Selain itu, pemain asuransi harus mengharapkan peningkatan persaingan, yang disebabkan oleh lebih banyak kemitraan antara perusahaan asuransi dan perusahaan teknologi. Yeo juga memprediksi bahwa akan ada penekanan yang tumbuh pada praktik ESG di industri karena perubahan iklim tengah menjadi prioritas global dengan perusahaan asuransi menggandakan upayanya demi mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

Menurut Goh dari Prudential Singapore, dia percaya bahwa asuransi jiwa berubah dari tradisional tentang perlindungan kematian menjadi mendapatkan peran yang lebih aktif dalam kebutuhan kesehatan dan kesejahteraan dari pelanggan.

Dia menambahkan bahwa ketika populasi yang menua di Singapura diperkirakan akan meningkat menjadi 25% dari populasi pada 2030, kemungkinan atas masyarakat yang jatuh sakit dan membutuhkan perawatan medis meningkat merupakan hal yang harus disiapkan oleh perusahaan asuransi.

Goh juga percaya bahwa akan ada integrasi AI yang lebih besar dalam layanan dan solusi karena pelanggan menuntut layanan real time yang lebih dekat di permasalahan pemrosesan klaim atau menjawab pertanyaan pelanggan kapan saja.

Sementara itu, Sze Keed dari AIA Singapore, setuju bahwa perusahaan asuransi kemungkinan akan memanfaatkan lebih banyak teknologi dan mengadopsi insurtech untuk menciptakan produk yang bernilai lebih tinggi bagi pelanggan, tetapi mereka masih harus lebih menekankan pada sentrisitas pelanggan dan permasalahan ESG di jantung operasinya serta strategi pelanggan mereka.

"Ketika sebuah perusahaan memiliki fokus people-centric, hal itu akan membuka aliran probabilitas yang menarik dalam memenuhi janji atas merek dan tujuan bisnis perusahaan," kata Sze Keed.

 

Follow the link for more news on

Bagaimana Emma mengubah strategi digital AXA Mandiri

Emma adalah platform digital all-in-one yang memenuhi kebutuhan nasabah, mulai dari pembelian polis asuransi hingga mengikuti kelas gym.

Melihat lebih jauh kondisi bisnis asuransi konvensional

Inovasi dalam menghadapi pandemi dapat mendorong kemajuan perusahaan asuransi, kata PwC Hong Kong Partner.

Apa alasan fintech Singapura ini menyudahi cara-cara konvensional penasihat keuangan

GoalsMapper menggunakan platform berbasis cloud untuk membantu penasihat keuangan mendukung 80.

Qoala mengumpulkan $65 juta dalam putaran pendanaan barunya

Putaran pendanaan  dipimpin oleh Eurazeo dengan partisipasi beberapa investor yang lain.

Mengapa embedded insurance memotong perantara

Tanpa perantara, asuransi akan semakin murah bagi konsumen.

'Kecelakaan' yang mengubah hidup CEO PGA Sompo

Bagaimana sebuah kecelakaan mobil mendorong Fumihiko Harada untuk berkarir di bidang asuransi.

Tidak ada orang yang tertinggal: Bagaimana insurtech memecahkan kekacauan underinsurance

Sebagian besar masalah dalam industri tampaknya 'diciptakan sendiri'.

Sun Life Indonesia memperdalam kemitraan bancassurance dengan CIMB Niaga

Hal ini akan secara efektif memperpanjang kemitraan kedua perusahaan hingga 2039.