, Singapore
741 views

Umur panjang berpotensi menjadi mimpi buruk bagi keuangan warga Singapura

Hal ini menjadi masalah bagi lebih dari setengah pensiunan yang tidak berasuransi.

Umur panjang dianggap sebagai berkah oleh banyak orang. Tetapi bagi para pensiunan, biaya hidup, meningkatnya risiko sakit, dan meningkatnya biaya pengobatan adalah mimpi buruk. Karena itu, membayar premi untuk asuransi sering diabaikan. Hal ini terbukti dalam survei Asosiasi Asuransi Jiwa Singapura yang menemukan lebih dari 52% warga Singapura berusia 60 tahun ke atas tidak memiliki asuransi.

Dalam sebuah wawancara bersama Insurance Asia, Raymond Ong, CEO Etiqa Singapore, mengatakan harapan hidup yang panjang menciptakan kesenjangan perlindungan yang besar di antara warga Singapura.

“Kami melihat Singapura menjadi salah satu negara yang memiliki harapan hidup tertinggi di dunia. Saat ini, satu dari tujuh warga Singapura berusia 65 tahun ke atas, jumlah ini akan menjadi satu dari lima pada 2030,” kata Raymond menjelaskan.

Bukan hanya warga lansia Singapura yang terpengaruh oleh angka harapan hidup yang lebih panjang. Menurut Raymond, dengan penurunan angka kelahiran penduduk sebesar 8,6%, generasi millennial Singapura menjadi generasi sandwich atau generasi yang terjebak antara merawat orang tua mereka yang sudah lanjut usia dan membesarkan keluarga sembari mempersiapkan masa pensiun mereka.

“Lebih dari dua pertiga milenial yang tidak memiliki asuransi yang memadai [karena mereka] merasa tidak mampu membeli asuransi jiwa,” kata Raymond, mengutip survei Etiqa baru-baru ini.

ALSO READ: Women in insurance: What’s blocking the way to diversity?

Raymond memperingatkan tanpa cakupan keuangan yang memadai, konsekuensi keuangan dapat menghancurkan keluarga muda jika terjadi kematian atau penyakit kritis dari satu-satunya pencari nafkah.

“Masalah sebenarnya bagi saya adalah tidak peduli seberapa besar anggaran keluarga, pentingnya asuransi sering diabaikan, dan konsekuensinya baru terlihat ketika sudah terlambat,” kata dia menambahkan.

Fokus pada layanan nasabah

Kebutuhan dasar asuransi nasabah tidak banyak berubah. Apa yang perlu dikembangkan dan disesuaikan lebih lanjut adalah cara perusahaan asuransi menjangkau nasabah mereka, kata Raymond.

Raymond menekankan bahwa sebagian besar kebutuhan nasabah berpusat pada dua hal: perlindungan dan penyediaan pensiun. Dia mengatakan ini paling baik dilayani melalui konsep asuransi tradisional yang melibatkan penyatuan risiko di antara sekelompok besar nasabah serta rata-rata biaya dolar, yang mengarah pada pengembalian jangka panjang yang lebih berkelanjutan dan stabil.

ALSO READ: No man left behind: How insurtech is solving the underinsurance mess

Untuk masa depan industri asuransi, Raymond mengatakan karya-karya inovatif akan muncul di bidang analitik data. Dengan analitik data, perusahaan asuransi dapat secara efisien mengidentifikasi dan mengelola risiko, menjangkau nasabah dengan penawaran yang sesuai, dan membuat aspek tertentu dari pertanggungan asuransi disesuaikan untuk nasabah tertentu.

Perusahaan asuransi juga akan fokus pada otomatisasi untuk melayani lebih banyak nasabah yang paham teknologi melalui layanan mandiri atau self-service dan meningkatkan pengalaman nasabah dengan mengaktifkan platform bantuan 24 jam.

 “Industri asuransi memiliki peran penting dalam menyoroti pentingnya perlindungan asuransi dan penyediaan pensiun. Sebagai sebuah industri, kami memenuhi kebutuhan sosial yang sangat penting untuk memastikan keamanan finansial keluarga terjamin pada saat dibutuhkan. Kita harus mempromosikan pentingnya  memiliki asuransi secara memadai,” kata Raymond.

 

 

Perang Timur Tengah ungkap risiko arus kas bagi UKM Singapura

CEO UOI Andrew Lim mengatakan banyak bisnis masih kurang terproteksi di tengah biaya operasional yang terus naik.

EFGH mengandalkan embedded microinsurance untuk jangkau pasar di luar segmen kaya Singapura

Sebagian besar konsumen tidak membutuhkan polis asuransi besar, ujar CEO EFGH David Ng.

Kerugian akibat fraud ungkap ketertinggalan sistem pembayaran asuransi Hong Kong

Cek fisik dan proses manual masih bertahan meski biaya fraud capai 5% dari pendapatan.

Asuransi Asia Pasifik lirik utang pasar berkembang demi kejar imbal hasil

Penerbitan investment-grade kini kuasai lebih dari separuh pasar.

Perusahaan asuransi perketat kontrol atas jalur pelayaran Hormuz

Jepang dan Korea Selatan hadapi eksposur lebih besar terhadap risiko energi Teluk.

Perusahaan tinjau ulang perlindungan kesehatan seiring biaya klaim yang terus naik

Perubahan rider MOH perketat cakupan dan naikkan eksposur co-payment mulai April 2026.

Hong Kong healthcare dorong kejelasan harga, uji klinis, dan kapasitas bioteknologi

Enam dari 10 pasien tunda pengobatan akibat kekhawatiran biaya.

Perang Iran tingkatkan risiko jangka panjang bagi keuntungan asuransi konstruksi Asia

Gangguan rantai pasok dan volatilitas energi berpotensi kerek premi lebih tinggi pada 2027.

Asuransi Asia Tenggara berisiko tergerus laba akibat sistem data yang lemah

CEO Igloo sebut infrastruktur usang batasi manfaat AI meski belanja teknologi terus naik.