, Singapore
724 views

Umur panjang berpotensi menjadi mimpi buruk bagi keuangan warga Singapura

Hal ini menjadi masalah bagi lebih dari setengah pensiunan yang tidak berasuransi.

Umur panjang dianggap sebagai berkah oleh banyak orang. Tetapi bagi para pensiunan, biaya hidup, meningkatnya risiko sakit, dan meningkatnya biaya pengobatan adalah mimpi buruk. Karena itu, membayar premi untuk asuransi sering diabaikan. Hal ini terbukti dalam survei Asosiasi Asuransi Jiwa Singapura yang menemukan lebih dari 52% warga Singapura berusia 60 tahun ke atas tidak memiliki asuransi.

Dalam sebuah wawancara bersama Insurance Asia, Raymond Ong, CEO Etiqa Singapore, mengatakan harapan hidup yang panjang menciptakan kesenjangan perlindungan yang besar di antara warga Singapura.

“Kami melihat Singapura menjadi salah satu negara yang memiliki harapan hidup tertinggi di dunia. Saat ini, satu dari tujuh warga Singapura berusia 65 tahun ke atas, jumlah ini akan menjadi satu dari lima pada 2030,” kata Raymond menjelaskan.

Bukan hanya warga lansia Singapura yang terpengaruh oleh angka harapan hidup yang lebih panjang. Menurut Raymond, dengan penurunan angka kelahiran penduduk sebesar 8,6%, generasi millennial Singapura menjadi generasi sandwich atau generasi yang terjebak antara merawat orang tua mereka yang sudah lanjut usia dan membesarkan keluarga sembari mempersiapkan masa pensiun mereka.

“Lebih dari dua pertiga milenial yang tidak memiliki asuransi yang memadai [karena mereka] merasa tidak mampu membeli asuransi jiwa,” kata Raymond, mengutip survei Etiqa baru-baru ini.

ALSO READ: Women in insurance: What’s blocking the way to diversity?

Raymond memperingatkan tanpa cakupan keuangan yang memadai, konsekuensi keuangan dapat menghancurkan keluarga muda jika terjadi kematian atau penyakit kritis dari satu-satunya pencari nafkah.

“Masalah sebenarnya bagi saya adalah tidak peduli seberapa besar anggaran keluarga, pentingnya asuransi sering diabaikan, dan konsekuensinya baru terlihat ketika sudah terlambat,” kata dia menambahkan.

Fokus pada layanan nasabah

Kebutuhan dasar asuransi nasabah tidak banyak berubah. Apa yang perlu dikembangkan dan disesuaikan lebih lanjut adalah cara perusahaan asuransi menjangkau nasabah mereka, kata Raymond.

Raymond menekankan bahwa sebagian besar kebutuhan nasabah berpusat pada dua hal: perlindungan dan penyediaan pensiun. Dia mengatakan ini paling baik dilayani melalui konsep asuransi tradisional yang melibatkan penyatuan risiko di antara sekelompok besar nasabah serta rata-rata biaya dolar, yang mengarah pada pengembalian jangka panjang yang lebih berkelanjutan dan stabil.

ALSO READ: No man left behind: How insurtech is solving the underinsurance mess

Untuk masa depan industri asuransi, Raymond mengatakan karya-karya inovatif akan muncul di bidang analitik data. Dengan analitik data, perusahaan asuransi dapat secara efisien mengidentifikasi dan mengelola risiko, menjangkau nasabah dengan penawaran yang sesuai, dan membuat aspek tertentu dari pertanggungan asuransi disesuaikan untuk nasabah tertentu.

Perusahaan asuransi juga akan fokus pada otomatisasi untuk melayani lebih banyak nasabah yang paham teknologi melalui layanan mandiri atau self-service dan meningkatkan pengalaman nasabah dengan mengaktifkan platform bantuan 24 jam.

 “Industri asuransi memiliki peran penting dalam menyoroti pentingnya perlindungan asuransi dan penyediaan pensiun. Sebagai sebuah industri, kami memenuhi kebutuhan sosial yang sangat penting untuk memastikan keamanan finansial keluarga terjamin pada saat dibutuhkan. Kita harus mempromosikan pentingnya  memiliki asuransi secara memadai,” kata Raymond.

 

 

Hong Kong tetapkan batas 50% untuk biaya referral asuransi

Pihak ketiga yang tak berlisensi sebelumnya bisa menguasai hingga 95% komisi melalui skema rebate tersembunyi.

Aturan modal paksa perusahaan asuransi India kurangi diskon agresif

Strategi diskon besar demi mengejar pangsa pasar jangka pendek dinilai semakin sulit dipertahankan.

Zurich Indonesia percepat proses klaim pascabanjir Bali

Penyelesaian klaim yang lebih cepat dinilai memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap asuransi sebagai solusi finansial yang nyata.

Zurich dan YAS gunakan AI untuk kaitkan asuransi taksi dengan perilaku berkendara

Pengemudi dengan skor lebih tinggi akan mendapatkan cakupan perlindungan yang lebih luas serta tambahan manfaat.

Produk wealth dan pensiun dorong kenaikan premi perusahaan asuransi Singapura

Ranking Top 50 Insurance 2024 menunjukkan pemulihan industri setelah perlambatan pada 2023.

Keluarga Asia belum siap wariskan kekayaan, kepercayaan diri masih rendah

Dua pertiga masyarakat Asia khawatir kekayaan mereka tidak mampu bertahan lintas generasi.

Ciputra Life bidik pertumbuhan nasabah di luar jaringan grup

Permintaan manfaat kesehatan yang meningkat mendorong penguatan kerja sama dengan perusahaan dan perbankan.

Perusahaan asuransi perlu perluas perlindungan siber seiring pemilik kapal Singapura tingkatkan keamanan

Penanggung harus memperbarui model underwriting saat gangguan navigasi berbasis siber semakin meningkat.

MSIG Malaysia tingkatkan investasi data untuk dorong pertumbuhan

CEO menilai masa depan industri asuransi bergantung pada produk yang lebih terjangkau.

Great Eastern perkuat strategi lewat AI dan produk spesialis

Perusahaan asuransi ini menargetkan ekspansi produk untuk nasabah high-net-worth dan pemilik UMKM.